Senin, 07 April 2014

Back to My Heart/JinKey/BL/2shoot/chap2/end



Title: Back to My Heart
Author: KimLeeFam
Pairing: JinKey/JinKibum
Main cast: Kim kibum, Lee Jinki
Side cast: Kim jonghyun,  Lee Taemin, Choi minho, Jang soo bin(OC)
Lenght: 2 shoot/ chap 2
Genre: romance, hurt/comfort
Rate : PG-17, NC-17(kisseu)
Warning: flat story bikin ngantuk, cerita kepanjangan bikin bosen, BL,BoyxBoy, OOC, typo itu selalu ada dimanapun dia berada/?
Desclaimer : member SHINee milik SMent,Eomma dan Appa mereka, dan SHINee world tentunya ^~^. Story line milik Olivia Afirda Wirasasti, saya menuangkanya dalam tulisan dan menambahkan ini dan itu.
               a/n: kenaikan rate yang disengaja oleh pembuat story line. Author hanya bisa pasrah saja -_- . Bed scene? Ada deeeh...  baca aja *evil smirk*

               No bash, no flame.....
               Happy reading~~^^
^^^
               Aku masih saja berkutat dengan tumpukan dokumen. Beberapa gambar furniture, serta beberapa contoh-contoh bahan furniture. Tentu saja dengan laptop dan ipad yang menyala seharian. Juga tumpukan kertas bertabur angka yang sedikit membuatku pening. Seperti inilah pekerjaanku, menyenangkan, sekaligus melelahkan. Apa lagi saat proyek datang secara bersamaan dan aku harus rela  terkungkung di rumah seharian. Hingga melewatkan makan siang bahkan makan malam.
               Aku akan kembali ke Italy besok. Itu rencanaku. Bahkan aku sudah mengemasi koper tadi pagi. Memilih untuk segera pergi dari rumah ini secepat mungkin. Bukan hanya masalah pekerjaan, tapi juga karena Jinki yang selalu berkeliaran di dekatku. Semua ini sangat membelenggu dan aku ingin cepat-cepat lari. Jujur, berat rasanya meninggalkan keluargaku lagi. Tapi, dengan keadaan seperti ini, serta kehadiran Jinki membuatku seakan seperti tercekik, sampai-sampai menarik nafas di depannya saja terasa tidak mudah.
“hei, Kim kibum”, seru Jonghyun hyung dari balik pintu kamarku, “ayo turun dan cepat makan. Apa dengan kertas-kertas itu kau akan kenyang?”, serunya makin keras.
“ne, jamong hyung”, sahutku. Aku mendengar langkah kakinya yang berjalan menjauh dan sepersekian detik berikutnya teriakan dino head itu terdengar lagi. “yaa... pabo-ya.. siapa yang kau sebut dengan jamong, huh?”, aku hanya tersenyum geli karena kemampuan hyungku untuk berfikir tidak lebih cepat dari kemampuanya memakan seporsi bibimbab.
Aku berjalan menuju ranjang, memakai sweeter babypink untuk melapisi t-shirt tipis yang aku kenakan. Merapikan sedikit rambutku. Membenahi letak kacamataku tanpa niatan untuk melepasnya. Lalu  beranjak ke ruang makan.
               Taemin baru saja duduk ketika aku muncul di ruang makan. Dan apa lagi ini? Namja bermata sipit itu sudah duduk manis di sebelah kanan si dino head. Lihat kan? Betapa mudahnya dia muncul dalam kehidupanku.
 Aku menarik kursi di kiri Taemin dan memposisikan diri di sana. Setidaknya disini aku tidak harus langsung berhadapan dengan orang itu. Aku duduk dengan tenang dan bertingkah sewajar mungkin
“aigoo”, kata Taemin. Ia menatapku dengan matanya yang hampir membulat sempurna.
“mwo?” seruku menyadari tatapannya. “tatapan macam apa itu? Apa aku melakukan suatu kesalahan?”, ocehku karena dia tidak juga mengalihkan tatapannya dariku.
“ckckckck.. apa selama itu di Italy membuatmu seperti ini?”, decak Jonghyun hyung yang tentu saja dimaksudkan ke arahku.
“dia ada didekatmu, tunanganmu hyung. Setidaknya sapalah dia. Bahkan kau tidak mengerling kearahnya. Aigoo.. ”, keluh Taemin frustasi.
“ oh holla, ¿que'ta?”,(halo, apa kabar?) kataku kaku dengan bahasa spanyol.
“muy bien,¿y tu, como estas?”, (baik, dan kamu? Apa kabar?) jawabnya tak kalah datar.
“muy bien!”, jawabku santai padahal keadaanku tidak baik, sama sekali tidak baik.
“sepertinya putraku sudah berubah menjadi orang asing sekarang”, kata Appanim dari kursinya, “ apa yang kalian tunggu? ayo makan”, titahnya.
Semua orang langsung sibuk dengan makanan masing-masing. Sedangkan aku hanya meminum air putih dari gelas kristal di hadapanku, semua makanan yang Eomma masak hari ini tidak ada yang bisa ku makan.
“gwenchana key?” tanya eommanim melihatku tidak kunjung makan. Aku hanya melihatnya sekilas dan dia langsung paham “ahhh, mianhe key. Eomma kehabisan buah, serealmu juga habis. Untuk malam ini makanlah yang ada dulu ne?” bujuk eomma. Aku hanya mengangguk dan mencoba memakan hidangan yang sudah susah payah eomma masakkan untukku dan yang lain.
               Aku menyingkir ke teras setelah acara makan malam selesai. Jonghyun hyung, appanim dan eommanim serta Jinki hyung sedang berbincang di ruang tengah. Taemin sudah kembali ke kamarnya dan belajar. Sudah 10 menit dan perutku masih saja mual, semua serba salah. Tidak nyaman dan sesuatu seperti sedang mengaduk perutku. Beberapa kali aku mengetuk-ngetuk dadaku untuk menghentikan rasa mual ini. Tapi percuma karena daging yang kupaksakan masuk ke dalam mulutku tadi sepertinya sedang bersenang-senang di dalam pencernaanku.
“Key-ah”, panggil suara yang jelas aku tau itu suara Jinki hyung. “appanim ingin bicara dengan kita, masuklah”, tambahnya lagi.
“ne..”, jawabku singkat, berlalu mencoba untuk secapatnya pergi dari teras. Belum sampai dua langkah lengan kananku tersangkut sesuatu. Lagi-lagi tangan kokoh itu menarikku lebih dekat kearahnya. “lepaskan aku”, kataku ketus, tapi sejak kapan Jinki mendengarkan penolakanku?
Dia mulai meraba pergelangan tanganku dan begitu menemukan sesuatu yang berdenyut disana, dia mulai menekanya perlahan, sembari memperhatikan arloji di tangan kirinya. Sesaat setelah itu dia kembali tersenyum tapi tak kunjung melepaskan tanganku dari genggamannya.
“kau berdebar,” kata Jinki tiba-tiba sambil tersenyum tipis. Kedua pipiku terasa panas. Yakin keduanya pasti memerah seperti tomat cherry favorit Jjong hyung.
“apa yang kau maksud dengan berdebar?”, kataku salah tingkah sambil menarik lenganku tapi untuk kesekian kalinya usahaku gagal.
“sejak kapan kau bisa melepaskan diri dariku? Kau harus mulai perhatikan jantungmu, jika seperti itu terus kau bisa membuatnya sakit, ara?” ocehnya.
“Aku... baik-baik saja, jangan khawatirkan aku..”
“ahh,  jjinja?”, tanya jinki hyung memandangku lekat dengan mata sabitnya.
“ne.  Aku hidup dengan sehat, aku makan sayur, aku minum air putih, aku tidak minum kopi lagi, aku olahraga teratur, aku makan obat yang kau kirimkan dan...”, aku langsung menghentikan kalimatku, karena semua yang aku katakan tadi adalah ocehan Jinki saat kami masih bersama. Saat kami berpisahpun dia tetap rajin mengirim e-mail mengingatkan hal-hal itu, meskipun aku tidak pernah membalasnya. Dan meskipun aku mengacuhkannya, dia masih rajin mengirimkan vitamin dan obatku lewat Eommanim.
“anak baik, baguslah jika itu semua kau lakukan”, kata Jinki hyung sambil tersenyum dan mengusap pucuk rambutku. Dia masih sama, dia memperlakukanku dengan baik. Tangannya juga masih sehangat dulu, dan senyuman itu... Ahh, Tuhan kenapa di saat seperti ini aku merasa ingin menyerah saja dengan sikap dingin dan acuhku?
 Sentuhan hangat di bibirku menyadarkanku dari lamunan singkat itu. Jinki mulai mengulum bibir bawahku dengan penuh cinta. Aroma apel musim gugur menguar memenuhi rongga hidungku. Rasa manis bak madu terasa jelas di ujung bibirku. Aroma yang sangat aku kenali dan sangat aku rindukan, setip hari. Perlahan tangan kiri Jinki melingkar di pinggang rampingku, merengkuhku dalam dekapannya yang hangat. Menciumiku dengan penuh cinta.
Terasa ada desiran aneh dalam dadaku, hal yang sudah sangat lama dan tak lagi aku rasakan. Rasa yang membuatku untuk terus bertahan dan menerima segala perlakuan Jinki. Membiarkanya memagutku dan menumpahkan semua kerinduan yang selama ini terpendam dalam hatiku. Tapi sedetik kemudian aku mulai menemukan akal sehatku, aku mendorongnya untuk menjauhiku.
“jangan kau sentuh aku dengan bibir kotormu itu”, kataku dengan suara sedingin mungkin.
“berhenti bersikap kekanakan macam itu kim kibum”, kata jinki sambil menatap mataku tajam. “apakah sesulit itu untuk kau memaafkan aku, eoh?”, dia mulai mencengkram bahuku.
“aku memperingatkanmu, dr. Lee”, kataku dengan suara bergetar.
“kenapa kau jadi begini? Katakan padaku.. apa yang membuatmu seperti ini?”
“don’t you know doctor? you broke my heart so bad, you broke my heart and hurt it again, in just one second!”, kataku dengan suara bergetar, tubuhku bergetar menahan amarah yang sedari tadi berusaha untuk aku tahan, aku masih mencoba untuk serasional mungkin menghadapi Jinki dan situasi seperti ini.
^^^
               Aku berjalan cepat melewati ruang keluarga. Appanim dan eommanim serta Jonghyun memandang heran dengan apa yang aku lakukan. Belum lagi saat aku membanting pintu kamarku dan suara debamman yang keluar jauh lebih keras dari dugaanku. Dengan cepat aku meraih ponselku di ranjang lalu memencet beberapa nomor, setelah beberapa kali terdengar nada sambung seseorang mengucapkan salam dengan bahasa Italia.
“holla..”, kataku balas menyapanya.
“digame?”, (ada yang bisa saya bantu) kata suara yang terkesan ramah itu.
“¿hay un vuelo a Sevilla?”, (adakah penarbangan ke Sevilla?) tanyaku dengan suara serak khas orang yang baru saja menangis, aku sengaja mengambil tujuan Sevilla agar bisa menenangkan diri sebelum pergi ke Millan.
“¿hay uno a las once de sevilla la maɲ᷈ana”,(ada satu penerbangan ke Sevilla pukul 11 pagi) jawab suara itu lagi.
“quisiera reservar un asiento, me llamo senor kibum kim”, (saya ingin memesan satu tempat duduk, nama saya kim kibum) tambahku lagi meraih tissue di atas meja nakas di kanan ranjangku.
“gras..”, belum selesai kalimatku seseorang menarik ponselku dan melemparnya hingga membentur tembok, dan dengan sekali hentakkan orang itu yang ternyata Jinki hyung menarikku dan membawaku turun ke lantai satu.
“aku memperingatkanmu michitokki..”, teriakku berusaha melepaskan diri dari genggaman serta tarikkanya.
^^^
               Aku dan Jinki hyung langsung disidang malam itu juga. Di dalam ruang kerja appanim aku dan Jinki hyung hanya bisa diam. Eomma dan Jonghyun hyung menguping dari balik pintu seperti biasa, dan sekarang aku dengar sayup-sayup suara Taemin. Ahh.. ini tidak akan berakhir dengan mudah. Appanim marah besar, dia terus saja membentak dan berteriak, aku mulai khawatir dengan jantungnya.
Masalahnya bukan hanya pertengkaran kami beberapa menit yang lalu tetapi juga menyangkut pertunangan yang menurut mereka sudah berjalan selama ini. Aku dan Jinki hyung memang merahasiakan perpisahan kami dari semua orang. Kebodohan kami ini yang sekarang berakibat fatal bukan hanya pertunangan, ini sudah menyangkut pernikahan dan kedua perusahaan besar  dari kedua belah pihak. Jinki memang seorang dokter tapi dia juga pewaris dan calon CEO perusahaan konstruksi milik ayahnya. Appanim dan appa dari Jinki hyung sudah sepakat untuk menjodohkan kami 5 tahun silam saat  aku masih duduk di bangku kuliah. Saat itu aku dan Jinki adalah dua mahluk yang sedang dimabuk asmara, tentu saja sebelum kejadian ‘itu’ terjadi.
“ceroboh..”, teriaknya untuk kesekian kalinya. “apa kalian memikirkan akibat apa yang akan timbul saat berita perpisahan kalian muncul di media?”, Aigoo.. tidak adakah hal yang lain yang bisa appa katakan? Batinku. “kalian sadar tidak, ini tidak hanya berpengaruh terhadap kalian, tapi semua orang akan terkena imbasnya. Keluarga, kehormatan, setrata sosial kita di masyarakat. Pertunangan kalian tidak hanya mengikat kalian berdua, tapi juga menyatukan keluarga. Ini tentang dua perusahaan, tentang saling bertukar teknologi, bertukar saham, tambahan koneksi, peningkatan harga saham, juga hasil yang berjumlah milyaran dolar itu. Semua itu menyangkut kelangsungan hidup para pekerja, karyawan, juga staff perusahaan kita. Kalian tau seberapa pentingnya hubungan ini?”, terang Appanim panjang lebar.
“mianhamnida Abojji, tapi keputusan...”.
“tidak ada keputusan apapun sebelum aku selesai berbicara dengan ayahmu”, potong Appa bahkan sebelum Jinki menyelesaikan kalimatnya.
“dan kau Kim kibum. Berhenti dari pekerjaanmu di Italy, masuk keperusahaan hyungmu mulai senin depan”.
“aku tidak akan lakukan itu”, bantahku “aku sudah memesan penerbangan ke Sevilla untuk besok pagi”.
“dasar anak nakal..”
“aku permisi Appanim”, membungkuk memberi hormat lalu pergi meninggalkan Jinki dan appanim yang masih duduk di ruang kerja milik appa. Melewati Jonghyun hyung dan eommanim serta Taemin yang sedang sibuk berakting di depan ruangan appa, lalu kembali kekamarku.
^^^
               Jam di dinding dapur menunjukan pukul 06.00. Jonghyun hyung dan Taemin sibuk untuk pergi ke kantor dan ke sekolah. Mereka mondar-mandir mencari dasi,sepatu dll. Aku hanya duduk di atas meja dapur sambil menunggui eomma memasak dibantu oleh ahjuma.
“bukankah biasanya kau pergi lari-lari?”, tanya eomma melihatku murung, dan hanya duduk diatas meja tanpa melakukan apapun. Appanim membatalkan penerbanganku pagi ini dia juga memblokir penerbangan apapun atas namaku.
“aku malas”.
“kibummie.. dengar eomma baik-baik, eomma tidak tau ada apa diantara kau dan Jinki, pertunangan ini sudah berjalan hampir 5 tahun dan pernikahan juga sudah di depan mata. Eomma mohon. Kau mengertikan namja cantik eomma?”, kata eomma lembut sambil membelai rambutku.
“araseo eomma”, kataku pelan, menutupi perasaanku.
^^^
               Baiklah aku benar-benar menjadi  budak si kepala Dino kali ini. Setelah aku diperkenalkan oleh Jonghyun hyung pada beberapa staff dan karyawan, aku mendapat ruanganku. Direktur kim ki bum, setidaknya itu yang tertulis dimeja kerjaku. Walaupun pada kenyataanya aku menjadi budak manusia berkaki pendek itu.
Sampai jam makan siang belum juga ada yang bisa aku kerjakan, aku menghabiskan hari dengan bermain game on-line. Ahh semembosankan ini kah? Aku belum pernah sebosan ini dalam bekerja.
“ya.. chagiyaa...”, kata Jonghyun hyung muncul dari balik pintu “Eomma ingin kau menemuinya”, katanya sembari menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat.
“kau tidak lihat aku sibuk?”, kataku ketus, tanpa mengalihkan pandanganku ke arahnya.
“kau bahkan hanya main game sepanjang hari eoh..”,
“itu karena tidak ada satuhalpun yang bisa aku kerjakan disini pabo..”
“yakk..., rubah, aku ini hyungmu..”, plak...
“Appo..”, rengekku karena dia itu memukul belakang kepalaku dengan dokumen yang tergeletak dimeja.
“berhenti merengek, dan temui eomma”, kata Jonghyun lagi, dia meraih tanganku serta tas kerja yang tergeletak di meja, menyeretku seperti menyeret sapi betina. “aisshh... palli palli palli”, dia mencegat sebuah taxi, mendorongku untuk masuk ke jok belakang lalu berbicara dengan sopir taxi itu, memberinya sejumlah uang dan taxi yang aku tumpangi melaju meninggalkan gedung itu.
^^^
 Tempat itu hanya bangunan sederhana di tengah kota seoul. Begitu aku masuk, tirai-tirai putih menyambutku. Beberapa manekin berjajar rapi dengan gaun putih yang dari kesemuanya terlihat cantik. Berbagai hiasan kepala, aksesoris, bunga tangan serta beberapa jas pria. Ruangan itu terlihat nyaman, dengan sofa beludru warna babypink dan sebuah ruangan lain. Di pintu ruangan itu tertera nama ‘Jang soo bin’. Aku mulai tidak paham dengan apa yang eomma inginkan, tak taukah beliau, yeoja yang mungkin saja berada di balik pintu itu adalah yeoja yang sama yang telah menghancurkan hatiku.
“oh.. oppa..” kata soo bin terkejut dengan kehadiranku saat dia muncul dari balik pintu ruang kerjanya. Yeoja itu masih cantik dan masih semanis dulu meski dia sedang memakai topi rajutan yang menutupi rambutnya, tidak heran jinki selalu ada didekatnya. “Ny kim baru saja pergi, dia sudah memilihkan beberapa pakaian, kita tinggal menunggu Jinki oppa”, ocehnya mondar-mandir mengambil pakaian-pakaian itu. “oppa cobalah dulu, Jinki oppa sudah mencoba bagiannya semalam, jadi hari ini tinggal kau saja.”
“semalam?” tanyaku, aku membuat nada suaraku sedatar mungkin.
“iya, aku sungguh merepotkan namjachingu-mu, mianhe oppa” kata gadis itu, aku hanya tersenyum menanggapi rentetan kalimat yeoja itu. Aku sudah hampir mencoba setengah dari pakaian-pakaian yang disodorkan Soo bin, saat jinki datang sambil membawa sekantung obat serta beberapa kotak makan siang.
“ah kau sudah datang”, kata Jinki sekilas melihat kearahku.
“meski sulit aku akan datang, bukankah ini harapan semua orang.”
“tentu saja.”
“kalian ini, kenapa obrolan calon pengantin terdengar begitu kaku dan dingin, eoh?”, oceh yeoja itu menghampiri Jinki.
“tidak apa-apa”, Jinki ngengusap kepala yeoja itu. “apa kau sudah putuskan akan memilih yang mana?”, tambahnya tanpa melihat kearahku.
“sepertinya sudah”, aku langsung kembali ke ruang ganti yang ada di ujung ruangan, menutup pintu  rapat-rapat dan menguncinya. Berharap aku tidak mendengar apapun. suara tawa mereka terasa menusuk hatiku.
Saat aku selesai dengan pakaianku, perlahan aku membuka kunci pintu. Mencoba berekspresi senatural mungkin untuk menghadapi dua mahluk yang mungkin sedang bermesraan di luar sana. Tapi tidak terdengar suara apapun, sampai aku menemukan dua mahluk itu tak lagi ada di sana. Kotak makanan juga masih tergeletak di meja tanpa tersentuh sedikitpun, aku berjalan menuju ruang kerja yeoja manis itu, mengecek apakah mereka benar-benar pergi atau malah beralih kedalam ruang kerja hanya untuk bermesraan. Beberapa pertanyaan berkecamuk di pikiranku, ketika aku tak lagi menemukan Jinki dan soo bin dalam ruangan itu maupun dalam butik.
^^^
Aku berjalan menyusuri trotoar kota. Seperti orang gila?  Iya kurang lebih seperti itu. Di tengah guyuran hujan di akhir musim gugur ini, aku terus berjalan tanpa memperdulikan bajuku yang basah akan kucuran air hujan yang kian lama makin deras. Butiran air dingin mengalir dari sudut mataku. Tak akan terlihat jelas jika kau tak memperhatikannya dengan seksama. Tapi, jika kau lihat ekspresi yang muncul dari raut wajahku. Kau pasti tahu bagaimana hancurnya hatiku saat ini.
 Yang ada di otakku saat ini adalah JINKI. Namja tampan itu lagi-lagi memperlakukanku dengan sama seperti 3 tahun lalu. Dengan sadar pergi meninggalkan aku, untuk yeoja lain. Ini bukan kali pertama Jinki meninggalkanku untuk yeoja yeoppo itu, dan karena hal itu juga hatiku bertambah sakit dan sesak.
Langkah kakiku terhenti di depan rumah besar nan mewah itu, papan nama yang terpatri disana menunjukan bahwa ini adalah kediaman keluarga Lee, aku mulai menekan bel, sesaat berikutnya terdengar suara dari intercom.
“nuguya?”, tanya suara yang aku kenali sebagai suara Jinki.
“aku hyung...”, kataku pelan, sedetik kemudian, dari pintu rumah muncul seseorang yang hanya mengenakan celana piama bermotif garis vertikal dengan t-shirt putih sebagai atasanya, dia berlari menuju pintu gerbang tanpa payung ditangannya, begitu pintu pagar dibuka, aku langsung menghambur memeluknya, mendekapnya begitu kuat seakan tak ingin dia lari lagi dari sisiku.
“kita harus masuk dulu”, bisiknya tepat ditelinga kananku “ ayo Key kita masuk”, kata Jinki membawaku masuk ke dalam halaman rumah, menuntunku sampai tiba di dalam rumah.
“eommanim..”, seru jinki memanggil eommanya.
“ne..”, seru ibu jinki dan begitu beliau muncul dari dapur satu kata yang langsung diteriakkannya” ommo..!”, ibu jinki langsung berlari mengambil handuk dari dalam lemari di bawah tangga. “apa kalian bertengkar lagi? Katakan pada eomma kibummie apa yang dilakukan anak pabo ini?!”, ocehnya mengusap kepalaku dengan handuk, mencoba mengeringkan rambutnya yang basah karna guyuran air hujan.
“sudahlah eommanim, biarkan dia berganti pakaian dulu”, potong Jinki “ayo key, ganti dulu pakaianmu dengan yang kering”
“kau benar, ayo pergilah dengan Jinki ke kamarnya, eomma akan siapkan coklat panas ne?”, aku hanya mengangguk menerima segala perlakuan manis eomma Jinki.
“kajja” kata Jinki menggandeng tanganku dan mengajakku ke kamarnya untuk berganti pakaian. Jinki baru selesai berganti pakaian setelah sebelumnya menggantikan pakaianku terlebih dahulu “aku akan menghubungi Jjong kalau kau akan menginap, aku rasa mereka sudah mulai khawatir”.
Aku menjawabnya dengan anggukan pelan. Aku masih duduk di sofa sambil menatap televisi di hadapanku, Jinki sudang berbicara dengan Jonghyun hyung lewat ponselnya, setelah itu kembali duduk disampingku.
“hyung...” panggilku lirih.
“mendekatlah, apa kepalamu pusing?” aku menggeleng kecil. “buka mulutmu,aaaa...” aku mengikuti saja apa yang diinstruksikan olehnya. “kau hampir terkena flu, beristirahatlah aku akan mengambilkan obat untukmu, supaya tidak semakin parah”, Jinki beranjak dari duduknya, hendak mengambil obat di laci di dekat ranjang, aku menarik ujung t-shirt biru tuanya, yang akhirnya membuatnya duduk lagi.
“aku mendengarkanmu”, kata Jinki nengusap pipiku, lalu tersenyum dengan begitu manis.
“apa kau yang memintanya untuk merancang baju pernikahan kita?”
“ne..”
“apa kau pergi menemuinya semalam?”
“ne”
 “apa kau pergi bersamanya tadi siang?”
“ne”
Pandanganku mulai kabur karena airmata yang mulai menggenang di pelupik mata.
“ dan apakah….”, suaraku tercekat ditenggorokan “ kalian menghabiskan malam bersama?”
“ne” jawabnya.
“lalu kenapa kau mau menikah denganku, sedangkan dia yang kau inginkan? Kenapa masih bertahan disisiku? Kenapa kau lakukan ini hyung?” tanyaku ditengah-tengah tangisku yang semakin menjadi. Jinki mengusap pipiku dan menyusut air mataku dengan ibu jarinya. Aku langsung memejamkan mataku saat itu juga. Perlahan dia mencium kedua kelopak mata dan pucuk hidungku.
“berhenti menangis dan pergilah tidur”, ucapnya dengan lembut.
“hyung...” bantahku yang ditanggapinya dengan menggendongku keranjang setelah sebelumnya mematikan televisi, menidurkanku di atas ranjangnya, lalu dia sendiri tidur di sampingku menghadap sisi lain.
“berbaliklah” pintaku menyentuh bahunya yang lebar. “hyung” dan akhirnya dia mau berbalik menghadapku, mengusap ujung bibirku lalu mengecupnya singkat, bukan ciuman penuh hasrat seperti biasanya melainkan kecupan selamat malam, yang mengisyaratkan kelelahan.
^^^
               Aroma yang sama memenuhi rongga hidungku pagi itu, aroma madu serta apel di ujung musim gugur, aroma yang bagaikan candu bagiku, membuatku semakin mengantuk dan tidak ingin bangun dulu.  Tiba-tiba sebuah sentuhan hangat di bibirku membuatku harus kembali terjaga, menarikku kembali ke alam sadarku secara paksa.
“emmmhhh” lenguhku karena seseorang terus menciumi bibirku tanpa ampun. Jinki terkekeh melihatku cemberut sepagi ini. Aku mengulurkan kedua tanganku mengharapkan pelukan di pagi dari Jinki, sebagai balasan karena dia telah membangunkanku dengan cara tidak layak.
“good morning” kata jinki memelukku dengan hangat, meskipun dia sudah berkemeja rapi dia tidak pernah menolak saat aku ingin memeluknya, walaupun setelah itu dia akan mengomel karena pakaiannya jadi kusut.
“good morning”, balasku masih menggelayut dalam pelukanya. Menghirup wangi tubuh namja tampan ini.
“sudah cukup Key, pergilah mandi, apa kau tidak ingin pergi kekantor?” tanya Jinki menepuk punggungku “ayo lepaskan aku, pergilah mandi…, kau tidak malu matahari bisa melihat kita dari balik jendela?”
“shirooo..” tolakku mengeratkan pelukanku tanpa ada niat untuk melepasnya, tidak ku sangka Jinki malah menggendongku dengan sekali ayunan, membawaku ke kamar mandi lalu menceburkanku ke bak mandi yang penuh dengan air dingin. “kyaaaa...” teriakku terkejut karena air dingin dalam bak mandi itu menyentuh kulitku “apa kau mau membunuhku, eoh?” omelku kesal.
“setengah jam lagi, aku tunggu kau untuk sarapan ara?”
“assh... Jinjja ”, umpatku kesal, tapi dia malah mengecup bibirku. “ya  hyung..” sekali lagi dia mengecup bibirku.
“ayo mengumpat lagi.. aku akan membuatmu tidak beranjak 1mm pun dari ranjangku”, ancamnya disertai dengan smirk nakal.
“yak, byuntae!!” teriakku. Dengan cepat dia hendak menciumku lagi, tapi meleset malah dia yang akhirnya tercebur dalam bak mandi. Jadinya kami berdua berendam dalam bak mandi penuh dengan air dingin di pagi-pagi buta.
^^^
“hyung…aaa”,  seru Taemin menghampiriku di cafe kantor di lantai satu gedung itu.
“hem?”, jawabku mendongak kearahnya. “kenapa sudah pulang, kau tidak memboloskan?”tanyaku.
“hyung, yang membolos itu hanya pecundang”, jawabnya sambil memposisikan diri di samping kiriku.
“keure, lalu dengan siapa kau datang?”
“eh..mm”
“jangan kau jawab. Dasar pabo.. kenapa akhirnya kau terperangkap dengan keroro itu, tsk” ocehku melihat Minho duduk di sebrangku dengan senyum lebar yang terkembang di wajahnya.
“apa kau sudah bosan hidup, dasar kodok.”
“hyung..” kata Taemin menarik ujung jasku, menandakan protesnya dengan sikapku yang keterlaluan.
“mwo? Aku hanya memberinya tumpangan. Ada yang harus aku kerjakan dengan hyungmu Key” kata kodok itu menyeruput kopiku “emm chukae Key, aku dengar kau akan menikah dengan Jinkie hyung, padahal aku dengar…”
“hyung..” Taemin langsung melompat dan membekap mulut kodok itu, sampai kopi di cangkirku hampir tumpah.
“yakkk… Taemin! Menjauh dari kodok itu!” lengkingku, hingga  membuat para pengunjung cafe memandang ke arahku.
“mwo..? Kenapa kau bicara seperti itu pada Taeminnie-ku?”, ucap minho memasang tampang polos.
“Taeminmu? Siapa Taemin mu…?”, tanyaku tergagap, dan aku langsung menunjukan death glareku pada Taemin. Deongsengku itu hanya duduk mematung sambil meremas lengan Minho ketakutan. Sedetik berikutnya aku langsung melunak karena namja cantik itu hampir menangis. “percuma saja aku melarangmu..” kataku sambil melangkah meninggalkan mereka di cafe.
“hyung.. gomawo..” teriak Taemin, yang aku balas dengan senyuman.
^^^
            Aku duduk di sofa putih besar di ruangan dengan tirai putih tipis yang melapisi setiap dindingnya ini. Di sebelah kananku ada vas bunga tinggi yang berisi lili putih. Lantai di kakiku dilapisi karpet bulu yang juga berwarna putih.
Aku melihat bayanganku yang terpantul dari standing mirror berbentuk oval yang berdiri di hadapanku.  Memakai setelan jas berwarna putih dengan dasi kupu-kupu pink  senada dengan bunga yang tersematkan di dadaku. Make up tipis yang menghiasi wajahku membuat dagu dan tulang pipiku terlihat lebih tegas serta bibir pinkku yang diberi sedikit warna merah membuat semuanya terlihat cantik.
Sudah banyak saudara dan teman dekat yang masuk ke ruangan ini. Memberi selamat atas pernikahanku dan memuji betapa cantiknya diriku ini. Aku harus selalu menyunggingkan senyum bahagia saat orang-orang itu masuk ke ruangan ini. Akan aneh jika aku memasang wajah cemberut di ‘hari bahagia’ku bukan?
Taemin kesana kemari mengambil foto. Mengambil dari sisi kanan, kiri, depan, close up, bahkan selca bersamaku sambil mengucapkan kata-kata ‘yeoppo’ berkali-kali. “ahh, hyung. Jinjja neomu neomu neomu yeoppoda..”, Taemin memujiku kesekian kalinya sambil beringsut duduk di sampingku. Melingkarkan tangannya ke lenganku manja.
“aigoo, mau sampai kapan kau mengatakan kalimat itu? Aku yang mendengarnya saja sudah bosan”, protesku sambil mengusap rambut almondnya.
“molla hyung, kau sangat cantik, aku ingin selalu mengatakan itu sepanjang hari ini.”
Kami tertawa bersama di akhir kalimatnya. Senang? Tentu saja. Dipuji seperti itu selalu berhasil membuat tulang pipiku naik beberapa senti.
Tiba-tiba ponsel Taemin berbunyi. “ne hyung, ada apa?”, sapa Taemin pada si penelepon. “mwo?”, serunya. Air mukanya berubah. Dia melirikku sekilas dengan ekpresi takut atau entah apa, hanya saja ekspresinya membuatku penasaran dengan informasi apa yang didapat dari seseorang di ujung line telpon. “eum, ne hyung aku akan keluar. Tunggu sebentar”, Taemin berdiri sambil memasukkan ponsel ke dalam saku jasnya.
“ada apa Taeminnie? Siapa yang menelponmu?”
“eum, itu, dia.. Minho hyung. Aku harus pergi hyung”, jawabnya sambil meminta izin dariku. Aku menyetujui dengan anggukan kecil. Lalu dia beranjak menuju pintu besar bercat putih dan menghilang di baliknya.
Bukankah aneh. Jika orang yang menelpon Taemin adalah Minho kenapa dia harus melihatku dengan ekspresi seperti itu? Apa yang dikatakan Minho tadi? Dan apapun yang dikatakakan Minho, pasti ada hubungannya denganku. Dan sepertinya itu bukan sesuatu yang baik.
 Beberapa waktu berlalu. Perasaanku semakin tidak enak. Aku berada di ruangan ini sendirian dan sedari tadi tidak ada satu orang pun yang masuk, entah itu sanak saudara, teman, ataupun keluarga. Semuanya semakin terasa aneh saat aku menyadari bahwa sudah sangat lama aku berada di ruangan ini. Bukankah seharusnya ada yang memanggilku untuk keluar? Mengajakku memasuki gereja, berdiri di altar, memulai upacara pemberkatan pernikahan?
Aku melihat ke sekililing ruangan mencari benda yang dapat menunjukkan waktu sekarang ini. Sayangnya nihil, tak satupun jam dinding yang terpasang. Ponsel pun sengaja kutitipkan pada Jonghyun hyung.
Aku berjalan menuju pintu. Dari dalam sayup terdengar seseorang yang berbicang dengan suara gelisah. Seperti suara Jjong hyung. Aku membuka pintu pelan, memberi celah sedikit agar bisa melihat apa yang sedang terjadi di luar.
Jonghyun hyung memegang ponsel dan mendekatkannya ke telinga. Beberapa detik kemudian dia menurunkan ponselnya dengan wajah kecewa, kesal, gelisah. “masih tidak dapat dihubungi”, ucapnya pada seseorang di sampingnya, Minho.
“coba lagi hyung”, ucap minho dengan nada lemah dan terdengar gelisah.
Jonghyun hyung mendekatkan ponselnya lagi ke telinga. Lalu menurunkannya kembali sambil menggeleng lemah.
“ahh, hyung eotokke? Waktu acara sudah hampir lewat. Bagaimana jika Jinki hyung tidak datang?”
Deg
Kata-kata Taemin barusan membuat jantungku serasa berhenti sepersekian detik. Apa? Tidak datang? Jinki hyung tidak datang?
Aku menutup mulutku yang ternganga. Otakku terasa kosong. Kakiku lemas. Bahkan dia meninggalkanku di hari pernikahan kami? Kenapa kau melakukan ini padaku hyung? Bukankah kau mencintaiku? Atau hanya aku saja yang memiliki rasa cinta ini?
Appo. Sakit. Sesak. Aku menahan airmataku agar tidak jatuh. Beranjak berdiri dan membuka pintu lebih lebar.
“hyung..”, panggilku pada Jonghyun hyung yang membuat dia agak terkejut.
“K..Key? Kenapa kau keluar? Sebaiknya kau di dalam sa...”
“apa Jinki hyung tidak datang?”, tanyaku memotong kalimat Jjong hyung dengan nada dingin.
“ani Key, dia akan datang. Dia pasti datang. Dia hanya agak, ee.. sedikit.. terlambat”, ucapanya agak ragu.
“dia tidak akan datang hyung. Pernikahan ini dibatalkan. Suruh semua tamu undangan pulang dan sampaikan permintaan maafku. Kalian bertiga pulanglah. Dan hyung, bisa kau berikan ponselku?”
Jonghyun hyung merogoh saku jasnya dan mengulurkan ponsel berstrap pink ke tanganku yang terulur. “tapi, Key.. kita bisa menunggu..”
Aku tidak mau mendengarkan kata-kata Jonghyun hyung yang hanya berusaha menenangkanku padahal dirinya sendiri pun tidak tenang. Berbalik dan kembali masuk ke dalam ruangan yang tadi aku tempati.
^^^
Jam di ponsel menunjukkan pukul 10PM KST. Aku masih berada di ruangan yang sama yang sejak pagi aku tempati. Masih dengan jas yang sama yang kukenakan tadi pagi. Dan dengan ponsel yang sepanjang hari ini selalu berada di genggamanku. Sesekali melihat layar ponsel. Berharap ada notif dari seseorang yang selalu memenuhi setiap sel otakku.
Tok tok tok
“Key? Mau sampai kapan kau berada di dalam? Ayo kita pulang..”, seru seseorang di luar sana dengan nada lemah. “berhentilah menunggunya Key, ini semua tidak berguna. Dia tidak akan datang!!”, serunya lebih keras dengan nada kesal.
“hyung, tenanglah.. Key hyung tidak akan datang sebelum Jinki hyung kemari. Dia akan selalu berada pada pendiriannya hyung”, suara Taemin yang sedang mencoba menenangkan Jjong hyung.
Marah? Pasti. Aku yakin mereka sangat marah dengan kejadian hari ini. Meskipun yang datang hanya saudara dan sebagian teman dekat mereka pasti akan membicarakan kejadian ini di belakanng kami. Tapi aku tidak peduli. Yang aku butuhkan sekarang ini adalah kejelasan. Penjelasan akan apa yang terjadi hari ini, ataupun 3 tahun yang lalu. Aku akan mendengarkannya. Entah itu kejadian yang sebenarnya ataupun alasan yang dibuat-buat. Aku akan mendengarkannya.
Aku lelah dengan keacuhanku sendiri. Aku menyerah dengan sikap dinginku dan tidak keingintahuanku. Jikapun kali ini dia mengatakan tidak mencintaiku. Aku akan menerimanya. Aku pasti menerimanya.
Tiba-tiba ponselku bergetar. Di layar tertulis nama orang yang sedari tadi berputar-putar di pikiranku.
Aku mengangkatnya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Hening yang terdengar. Di seberang sana pun tak terdengar sapaan apapun. Hanya terdengar hembusan nafas berat.
“Key,eodikka?”, tanyanya dengan nada lemah setelah hening panjang di antara kami.
“masih menunggumu hyung.”
^^^
Aku membuka pintu bercat putih itu dari dalam. Di luar terlihat Minho sedang memegangi bahu hyungku dengan kedua lengannya. Sedang Taemin yang berada di dekat mereka terlihat kikuk tak tahu harus berbuat apa. Semua kemarahan yang Jonghyun hyung arahkan kepada namja yang berdiri di depanku ini. Dengan masih mengenakan tuxedo yang sudah terlepas semua kancingnya, air muka yang kusut dan mata yang terlihat lelah sekaligus lemah.
Aku menyuruh ketiga orang yang masih berada di luar sana untuk benar-benar pulang kali ini, karna ada yang harus kubicarakan dengan namja yang ada di hadapanku sekarang. Tanpa menanti jawaban aku mempersilahkan namja tampan itu untuk masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya rapat.
Kami masih berdiri di dekat pintu, saling berpandangan. Memperhatikan air muka satu sama lain. Tak ada satu katapun yang keluar dari lisan.
Hening lama di antara kami.
Hingga detik berikutnya dia mulai menundukkan pandangannya. Tertunduk dalam dengan bahu yang terguncang pelan. Aliran air bening mulai terlihat dari ujung mata sabitnya. Aku menghampirinya, memeluknya hangat, sambil menepuk punggungnya pelan.
“mianhe Key, jongmal mianhe”, bisiknya sambil terisak pelan. “aku berjanji ini tak kan terjadi lagi. Sungguh. Mianhe Key mianhe.”
^^^
Esok harinya kami memakai pakaia serba hitam. Datang ke rumah duka untuk memberi penghormatan terakhir pada jenazah yang akan dikremasi. Di atas peti terdapat potret yeoja manis yang tersenyum, Jang Soobin.
Terlihat seorang wanita paruh baya berparas cantik yang duduk bersandar di dinding ruangan itu. Aku mendekatinya dan mengucapkan rasa bela sungkawa. Ia beranjak memelukku erat. “k.. kau Kim Kibum kan?” tanyanya dengan suara serak. “aku mohon maafkanlah Soobinku, maafkanlah dia Kim kibumshi, maaf jika dia sudah membuatmu terluka dan menderita. Dia tidak pernah bermaksud demikian. Aku mohon maafkan dia”, lanjutnya sambil terisak.
Apa Soobin menceritakan semua pada ibunya? Batinku.
“ne, ommonim. Saya memaafkannya dan tidak pernah menaruh dendam kepadanya. Berhentilah nmerasa bersalah ommonim.”
“terima kasih Kim Kibumshi, kau anak yang manis dan baik. Terima kasih, sekali lagi terima kasih.”
Semalam aku mendengarkan semua cerita Jinki hyung. Semua penjelasan yang ingin ia katakan padaku. Dari apa yang terjadi 3 tahun lalu hingga di hari batalnya pernikahan kami.
Saat itu Jinki berjanji bertemu dengan Soobin untuk memberitahu tentang penyakit yang diderita gadis itu. Siapa sangka, Soobin justru menyatakan rasa sukanya pada Jinki hyung sebelum Jinki memberitahu tentang peyakitnya. Soobin tidak tahu jika Jinki sudah memiliki kekasih, Soobin tidak tahu Jinki sudah bertunangan, dan dia tidak tahu saat itu aku berdiri di belakang keduanya. Menyaksikan Soobin mencium bibir kekasihku, lalu pergi dengan wajah memerah.
Saat itu aku benar-benar marah. Aku menghampiri Jinki hyung, menamparnya, dan melepaskan cincin yang melingkar di jari manisku lalu melemparnya ke arah namja itu.
Dan disitulah hubungan kami berakhir.
Di hari pernikahanku dan Jinki. Tiba-tiba keadaan Soobin menjadi sangat kritis. Beberapa hari sebelumnya dia pingsan. Di hari yang sama saat aku dan Jinki hyung memilih jas di butiknya. Entah bagaimana hingga aku tidak dapat mendengar suara jatuhnya tubuh Soobin dan mengira Jinki meninggalkanku. Jinki hyung bertanya-tanya, bahkan akupun bertanya-tanya pada diriku sendiri.
Beberapa hari belakangan ini, tubuh Soobin semakin lemah. Jinki hyung-lah yang bertanggung jawab akan kesehatan Soobin. Dia yang mendapatkan kepercayaan dari keluarga Jang untuk menjaganya. Jinki hyung sudah berusaha untuk mengembalikan keadaan Soobin, memberikan yang terbaik untuk kesembuhan gadis itu. Sayangnya, Tuhan berkata lain.
Di hari sebelum masa kritisnya, Soobin menitipkan secarik kertas yang ia titipkan pada Jinki hyung. Jinki hyung memberikannya padaku semalam. Di kertas itu tertulis “hiduplah bahagia dengan Lee Jinki oppa...”
Kalimat yang membuatku mengucurkan airmata sangat derasnya.
^^^
Seusai dari rumah duka aku dan namja tampan bermata sabit ini berada pada satu mobil. Ia menghentikan mobilnya di dekat sungai han. Kami berdua turun dari mobil dan berjalan-jalan di pinggiran sungai.
Menikmati hembusan angin yang menerpa. Saling menautkan jari jemari, membagikan kehangatan telapak tangan masing-masing.
Aku tersenyum dan menghembuskan nafas yang berisi sebuah kelegaan. Tiba-tiba Jinki hyung menghentikan langkahnya. Aku memandang ke arahnya dengan tatapan penuh tanya.

“Key. Kibummie. Kim kibum kekasihku. Setelah semua yang kita lewati selama ini..”dia menjeda kalimatnya. “maukah kau... menikah denganku..??” lanjutnya.

Mataku membulat. Terkejut dengan apa yang dikatakan namja di hadapanku ini. kenapa, tiba-tiba...? tidak, bukan tiba-tiba. Hanya saja, setelah kejadian kemarin...
“menikah denganku. Di sebuah gereja kecil, dengan pesta yang sederhana. Dihadiri oleh kedua orang tua masing-masing dan segelintir teman dekat.”
“pernikahan yang tanpa paksaan. Pernikahan tanpa embel-embel perjodohan di belakangnya. Pernikahan yang didasarkan oleh perasaan kita berdua. Pernikahan yang didasarkan oleh... Cinta.”
“jadi..”
Jinki mulai menurunkan badannya. Berlutut di hadapanku. Tangan kanannya menengadah ke arahku.

“will you marry me??”, ucapnya sambil diiringi senyum yang terkembang hingga menampakkan eye smile-nya.

Ini lamaran. Sebuah lamaran. Jinki melamarku. Dulu kami tidak pernah melewati prosesi ini karna sudah diatur sedemikian rupa oleh kedua orang tua.

Apa yang harus kulakukan? Aku harus menjawab apa? Jantungku berdetak tak karuan. Darahku mengalir lebih cepat dari biasanya. Aku menggigit bibir bawahku. Gugup.
Perlahan kuulurkan tangan kananku, menyambut tangan kanan Jinki hyung yang menengadah. Tersenyum manis dan mengangguk pelan.
Dia tersenyum. beranjak memelukku erat.

“saranghae Key...”

“nadoo saranghae..”

^^^
~the end~
^^^
a/n: yakk akhirnya kelar juga.. gimana? Ada bed scene-nya kaaann? Tapi nggak ada eNCi-an kkkk.. tukang PHP... *tabok pake jamban*
Terima kasih sudah mau baca ff gaje bin abal ini. kritik dan sarannya dooonngg... gw sedih banyak silent reader... T.T
Tapi, nggak apa-apa asal kalian senang saya juga senang *apa sih?*
RCL ya? jangan lupa...
No bash no flame...

Kamsahamnida~^^ *bow* 

Selasa, 11 Maret 2014

SWC INA CONFIRMED. HAPPY OR SAD?

#tulisan berikut ini memuat curahan hati dan pemikiran pribadi. 


Mendengar kata SWC pasti nggak asing lagi di kuping para Shawol. SWC. SHINee World Concert. Tahun ini adalah tahun ketiga diadakannya SWC. Dan di konser ini bertajuk SHINee World III.  SHINee akan menggelar konser solo-nya mereka di beberapa negara di belahan dunia. Dari Seoul, Korea; beberapa negara di Amerika Selatan, dan beberapa negara di Asia. Dan yang sangat mengejutkan adalah Indonesiapun juga kebagian jatah konser solo SHINee ini.

Sekian deskripsi mengenai SWC-nya. Nah, dilihat dari judul aja udah kelihatan banget bagaimana bimbang dan galaunya gue. Happy or sad?

First thing anggap aja gue happy. Woy, SHINee mau ke Indo woy. Mereka bakal konser di Indo.Pertama kalinya SHINee konser solo di Indo. Solo brow, cuma mereka doang, nggak rame-rame barengan artis laen macam Mubank ato SM-Town. Konser yang 2 tahun sekali di gelar itu mampir juga di Indonesia, negara gue. Mereka bakal tampil di sini. kita bakal menginjakkan kaki di tanah yang sama *heleh

Senengkan? yaiyalah gue seneng. Serasa makin deket sama suami-suami gue *plakk.

nah, ada tapinya dong. Karna tapi akan selalu menyertai jalanku kemanapun aku melagkah *apasih?

Second thing, is sad. Kenapa sad? karna udah fix banget gue nggak akan nonton.
"Kenapa nggak nonton? Kan elu fansnya? Nggak mau ketemu Onew?" tanya seorang teman yang bernama Hanna yang merupakan nama aslinya.
Mau gue jabarin liwat page sms yang segitu ceteknya mana muat? jadi gue jabarin alasan-alasannya ye...

pertama, anggap saja ini soal uang. Sama seperti yang digalauin banyak shawol di temlen guwe. Yang paling utama itu, tiket. Dimana tiket diperkirakan paling murah itu 700ribu-an. Itupun di tribun, jauh di ujung nirwana(?), kalo nonton bawa kekeran adek guwe jaman dia masih TeKa.
Gimana dengan yang VIP? Yang VVIP? Yang festifal? Yang bisa berdiri deket panggung? Yang bisa ngelihat Bupungs dari jarak yang dekat, dan minta salaman macam di inboks/? (yekali segampang itu minta salaman -_-")
Bisa dikira-kira sendiri kan berapa duit yang dibutuhkan? Need much kertas bergambar bapak soekarno dan bung hatta untuk menghadapinya.
Lalu, akomodasi, tranportasi, konsumsi, penginepanisasi. Belom lagi entar di sono bakal ada lapak-lapak(?) penjual goodies SWC.
dari raglan, snapback, #towel (sengaja pake hesteg), dan yang paling penting Lightstick Pearl Aqua. See? banyak sekali pegeluaran yang akan di butuhkan di sonoh.

Bagi yang tinggal sekitaran ibukota sih bisa menghirup napas lega. Paling nggak mereka dekat tempat tujuan. Terus gimana coba sama shawol yang berdomisili di luar daerah? Karna setau guwe, temen-temen shawol itu tersebar di seluruh kawasan Indonesia. Ada dari Palembang, Padang, Pontianak, Jawa tengah (gue), Jawa timur, de el el. (sory yg nggak sempet disebutin, ntar tangan gue kriting lagi kkk). Betapa susahnya perjalanan kami, apalagi yang dari luar jawa, mau nggak mau musti naek pesawat. Naek pesawat itu mahal kelews. apalagi entar pas nyampai di ibukota. musti muter-muter nyari lokasi konser. Duit lagi duit lagi... kebutuhan pokok sih -_-"

nabung? pasti. buat beli benda-benda berbau kpop di olshop aja perlu nabung beberapa bulan apalagi buat nonton konser macam begini. Menabung adalah jalan satu-satunya.Tapi nabung selama 3bulan setengah itu bakal dapet berapa duit ya? cukup nggak ya buat memenuhi segala-galanya? entahlah terserah kita sih mau ngaturnya gimana. Tapi gue percaya kok, shawol yang udah fix pasti nonton udah punya banyak cara.
sayangnya bagi shawol yang fix nggak bakal nonton macam gue, rasanya itu serasa berada di ambang kehancuran.... T.T

dan yang kedua, nggak kalah pentingnya. Ijin dan do'a restu dari kedua orang tua. Ini the most important thing in the world. Loe mau minta perijinan itu nggak segampang loe minta duit 500 perak ke ayah dan bundamu. Banyak hal yang harus dipersiapkan. Dimana loe musti nyiapin mental. Nyiapin alasan yang cukup jelas kenapa nonton konser itu penting banget buat hidup loe. Dan bersiap akan sebuah penolakan yang sadis melebihi kesadisan lagunya mas Afgan.
loe nggak diijinin terus mau kabur dari rumah, nekat nonton konser? Pulang dari sono akan timbul sebuah penyesalan yang bertubi-tubi. Emakk marah, bapak marah, dan hukuman entah apa yang bakal di siapin enyak babe. Kita nggak se-stupid itu kan wol? Gue doang deh yang mikir kayak gitu hahaha...

 ketiga, tanggal alias waktunya. Yaelah 22 Juni. kalo yang masih anak sekolah sih, tanggal segitu udah merupakan hari per-holiday-an. nah kalo yang udah kuliah? hawa-hawa UAS mengambang di langit. susah banget ye kalo Juni mah. pertengahan tahun. menjelang ramadhan pula. kenapa nggak habis lebaran sekaliaaannn?? paling nggak kan ada tambahan finansial. tapi ya jadwalnya gitu mau gimana lagi? guwe bisa apa?
nah, kalo bagi gue itu mah tanggal keramat. Tes SBMPTN tanggal 17 Juni. oh cidaakk, bulan-bulan itu adalah bulan-bulannya nyari universitas brow... Gue tahun ini mao kuliah. Capek gue jadi manusia semi pengangguran, pengangguran yang menghasilkan uang. itulah gue, gue ngangur tapi menghasilkan uang, sayangnya itu duit buat enyak babe gue, gue mah jatahnya sebulan 100rebu, miris ya? /nangis migkem/

dan masih banyak lagi alasan-alasan yang melatarbelakangi ke-fix-annya saya tidak nonton SWC.

JADI, menonton sebuah konser itu membutuhkan pemikiran jangka panjang, bukan cuma jangka pendek. Ini bukan cuma soal uang. Uang mah gampang, bisa dicari, bisa nabung, bisa ngepet/eh. Masalahnya lebih dari itu.
Saya pribadi lebih mementingkan untuk kuliah. Saya memilih untuk konsen memikirkan gimana caranya tahun ini bisa kuliah dan nggak semi pengangguran lagi. Gimana caranya saya bisa diterima di suatu universitas lalu meneruskan pendidikan saya. Saya iri sama temen-temen yang bisa kuliah taun kemarin jadi mereka punya kesempatan buat mewujudkan impian mereka lebih cepat. sedang saya? harus libur setahun(yekali libur gw lama banget) dan itu artinya saya menunda terwujudnya impian saya.

gue sih bikin rencana. pengen kuliah tahun ini, lulus, cari kerja, dapet duit, ngumpulin duit sebanyak-banyaknya, dan barulah guwe ngejar SHINee kemanapun mereka berada. kelamaan? iya, emang. tapi itu bagaikan penguji, seberapa setianya guwe sama SHINee #eeaa

dan juga diumur yang sekarang ini guwe harus bisa nentuin, mana yang penting dan mana yang lebih penting. SHINee itu penting, tapi masih ada yang lebih penting yaitu impian guwe. gimanapun juga impian guwe nggak jauh-jauh dari mereka sih. jadi guwe anggap mewujudkan impian itu langkah guwe buat bisa mendekati SHINee. disini 5 manusia itu guwe jadiin motivasi, buat penyemangat, bukan memposisikan meraka menjadi penyebab kegalauan. gue cinta sama mereka, masa' gue galau sih gara-gara mereka.

ada pembicaraan yang menyenangkan bersama mamah tadi sore.
guwe cerita sama mamah kalo SHINee mau datang ke Indonesia sambil mesam mesem dan gue terusin dengan pernyataan guwe nggak bakal nonton. Mamah cuma ikutan ketawa ngelihat tingkah gila guwe.
terus guwe lanjutin buat ceritain harga termurah tiketnya, di mana posisi nontonnya, dan niat guwe kalo bisa nonton mao nginep di tempat sodara di jakarta. dan tanggapannya "ngapain sih? yang ada lu mah bakal mati keinjek-injek" bahasa mak guwe semacam sadis banget gitu ye? tapi guwe sama emak guwe malah ketawa terbahak-bahak, itu kali yang bikin tweet gue di tuider jadi terkesan gila.... XD
lanjut..
m: nonton di tipi aja..
g: nonton di tipi mah nggak enak, banyak iklannya daripada SHINee-nya, terus entar ada boiben alay yempil macam semes ato ceribel...
m: haha... yang personilnya pada keluar satu-satu ye?
g: hah siape?
m: smash kan pada keluar. habislah riwayatnya.
m&g: *ngakak tanpa henti*
dapat diambil kesimpulan kalo otak ane sama emakk ane itu sama. Ya Allah, bagaimana bisaEngkau menciptkan otak ane dan emakk ane bisa sama? sama-sama haters-nya boiben ituh?
ini percakapan apa hubungannya sama SWC sih? nggak ada guwe cuma pengen cerita aja. XD

alasan selanjutnya gue sayang ortu gue, gue cinta ortu gue, gue nggak mau egois ngotot mau nonton konser padahal gue juga lagi ngotot banget minta dikuliahin. gue nggak mau menghamburkan uang hasil kerja keras ortu gue. gue punya tabungan kog, gue nabung. tapi itu kan duit hasil kerja ortu gue. nggak pure hasil dari keringet gue sendiri. so, ini yang bikin gue benar-benar membulatkan tekad buat nggak nekad  nonton konser.

Salah satu sahabat gue yang paling baik sepanjang masa (putri namnya) kasih nasehat gue. Dia bijak banget, dia yang bikin gue cepet mup on dari kegalauan konfirmnya SWC.  Pada intinya dia bilang jangan terlalu berat mikirin idol kita, kita juga punya kehidupan sendiri, idol juga punya hidup sendiri, cobalah buat berpikir lebih dewasa dan karena gue dalam misi mencari ilmu di dunia perkuliahan dia kasih tau gue buat belajar yang lebih giat.
mungkin akhir-akhir ini dia ngerasa gue jadi semakin kekanak-kanakkan karna mejalani kehidupan fangirling dengan terlalu lebay. nangis, galau, autis sendiri, dan sering nggak nyambung sama dia. jadi gue sekaligus mau minta maaf sebesar-besarnya sama dia. kalau tiba-tiba gue berubah sampai bikin dia illfeel.
Fadh, aku minta maaf sama kamu. Maafin aku ya ya ya....~^^

bagi shawol lain yang galau banget sih, mungkin alesan guwe cuma dianggep angin lalu dan tidak terlalu kuat buat bikin mereka terlepas dari kegalauan. tapi, saran dari guwe sih coba dipikirin aja dulu. apa dengan galau bisa bikin hati lebih enak? lebih nyesekk iya..
udahlah coba ikhlasin aja, mungkin belom rejekinya kita ketemu bopungs, mungkin tahun depan, atau tahun depannya nanti, atau depannya lagi atau pas nikahan gue sama Lee Jinki a.k.a Onew ntar huwahahaha.... XD

udahlah, segitu dulu *padahal udah banyak ngetz*
ini cuma hasil pemikiran guwe sih kalo nggak setuju juga nggak papa. diambil yang baek-baeknya aja gityuuuu...

akhir kata...
terima kasih dan keep shining baby~~^^

Sabtu, 01 Maret 2014

Back to My heart/BL/JinKey/2shoot/chap 1



Title: Back to my heart
Author: KimLeeFam
Pairing: OnKey/JinKey/JinKibum
Main cast: Kim kibum, Lee jinki
Side cast: Kim jonghyun, Lee Taemin, Choi minho
Other cast: find it by yourself
Length: 2 shoot
Genre: romance, hurt/comfort
Rate:  PG-17
Warning: BL, BoyxBoy, OOC, typos hir en der, etc.
Desclaimer: member SHINee milik SMent, Eomma dan Appa mereka, dan SHINee world tentunya ^~^.
 Story line milik Olivia Afirda Wirasasti, saya menuangkannya dalam tulisan dan menambahkan ini dan itu.
a/n: FF hasil percampuran otak dua author abal yang sering berkhayal yang ‘iya iya’, hingga terbentuklah sebuah FF abal abal. Karna ini FF pertama yang memuat BL, jadi pasti banyak kekurangannya. 
No bash, no flame...
Happy reading~~^^
^^^
3 tahun di Italy. 3 tahun meninggalkan Korea. Kampung halamanku. Rumahku. Keluargaku. Dan pada akhirnya aku harus kembali ke sini. Berat rasanya menginjakkan kaki di tempat ini. Bukan aku tak rindu dengan Appanim, Eommanim, Jonghyun hyung dan nae deongseng Taemin. Hanya saja kenangan buruk itu benar-benar menyakitkan. Dan aku tak mau mengingatnya.
               Mungkin aku tak akan kembali lagi ke sini jika tak terkena jurus aegyo Taemin yang membuatku tak bisa menolak permintaanya. Huh, adikku yang satu itu, benar-benar tumbuh menjadi namja yang imut. Dan lagi Jjong hyung yang memohon-mohon agar aku mau kembali ke Korea.
Risih rasanya saat 2 manusia itu tiba-tiba muncul di depan pintu apartemenku, memasang muka manis dan beralasan mau liburan beberapa hari di Italy. Tapi, beberapa hari itu mereka malah mengekoriku kesana kemari sambil membujuk-bujuk agar aku mau pulang ke Korea.
Dan, sekarang di sinilah aku. Di bandara. Bersama hyung dan adikku yang menebar senyum kesana-kemari. Seperti menang lotre saja karna bisa membawaku pulang ke rumah. Mereka berdua berjalan di depanku. Berbisik-bisik sambil cekikikan. Heol, senangnya karna misi mereka berhasil. Selamat.... aku salut dengan kegigihan kalian berdua, batinku.
Seoul. Masih sama. Masih ramai. Masih menjadi kota metropolitan dengan kesibukan penduduknya. Poster-poster bintang halyu di sana sini, kerlap kerlip lampu pertokoan. Semua masih sama. Atau jika ada perubahanpun aku tak akan tahu, karna aku memang bukan seseorang yang suka mengamati lingkungan sekitar.
Lalu bagaimana dengan dia? Dia? Kenapa aku memikirkan dia? Apa aku merindukannya? Ah, anni. Aku membencinya. Dan aku berharap tidak bertemu dengannya. Tuhan, kali ini saja, dengarkan aku. Aku tidak mau bertemu dengannya Tuhan. Karna jika aku bertemu dengannya mungkin saja aku akan menangis, itu bukan hanya memalukan tapi juga akan sangat menyakitkan.
***
Taxi yang kami tumpangi berbelok kedalam halaman luas rumah besar kami. Dari kejauhan aku melihat Eomma berdiri didepan pintu. Senyum sumringahnya terkembang begitu melihat taxi yang kami tumpangi mendekat. “Eomma.. aku merindukanmu”, kataku sambil memeluknya menahan haru.
“Eomma juga, sayang. Eomma juga merindukanmu. Kau bahkan tidak pulang ke rumah selama 3 tahun. Kenapa sepertinya kau tak merindukan eomma, eoh?”, eomma melepas pelukkannya sebentar.
“aahh, anniyo eomma. Aku benar-benar banyak pekerjaan di sana. Dan bagaimana bisa aku seenaknya saja pulang ke korea sedang di sana ada pekerjaan yang menumpuk?”
“perusahaan design interior yang besar, deadline, client dari perusahaan-perusahaan besar. Pasti sangat sibuk sekali, eoh?”, timpal Jjong hyung yang berdiri di dekat kami. “kenapa kau tak keluar saja, dan mencari pekerjaan di tempat lain? Yang tidak terlalu menuntutmu untuk kerja sebegitu kerasnya. Eumm, di perusahaanku misal??” usulnya yang diakhiri dengan kekehan.
“bekerja di tempatmu? Dan menjadi budakmu? Aku... tidaakk.. mauuu.. mr. Jamong...” jawabku dengan nada menegejek di kalimat akhir.
“yak! Jangan memanggilku jamong. Aku tidak suka itu.”
“wae? Kau kan jamong. Manusia berkaki pendek. Panggilan itu pantas untukmu.”
“yak!”
“aisshh, kalian berdua. Tak  sadarkah bahwa umur kalian sudah lebih dari 20 tahun? Masih saja bertingkah seperti anak kecil”, appanim yang baru saja turun dari lantai dua melerai pertengkaran kami yang kekanak-kanakan.
“ahh, appanim”, aku menundukkan kepala kepada laki-laki yang sangat ku hormati itu.
“hemm, kau sudah datang key? Kalau begitu cepat ke kamar dan bersihkan dirimu. Kita berkumpul saat makan malam.”
“ne, appanim. Eomma aku ke kamar dulu ne? Hyung, kajja. Bawakan koperku.”
“yak! Kau kira aku budakmu? Aisshh...”
***
“mwo? Jeju? Jaejoong hyung menikah? Kenapa kalian berdua tak memberitahuku, eoh?”, tanyaku berentetan karena terkejut mendengar apa yang disampaikan oleh appanim barusan. Jaejoong hyung, kakak sepupuku dia akan menikah lusa di Jeju itulah yang disampaikan appanim setelah selesai menikmati hidangan makan malam. Dan sangat menyebalkan karna dua kakak beradik itu tidak memberitahuku sebelumnya saat masih di Italy.
“kau yang tidak bertanya”, timpal si dino head dengan santai, yang kubalas dengan death glare yang tepat sasaran hingga membuat dia salah tingkah.
“tak apalah key. Kebetulan kau ada di sini jadi kita bisa menghadiri pernikahan Jaejoong  utuh sebagai satu keluarga”, tambah eomma yang duduk di sampingku.
“keundae eomma, harusnya mereka berdua memberitahuku sebelumnya. Aku bahkan tidak ada persiapan pakaian apa yang harus kukenakan dan juga bagaimana hadiah untuk Jaejoong hyung, eoh?”
“kau tenang saja, eomma sudah mempersiapkan semuanya. Kau hanya perlu datang ke acara, ikut meramaikan suasana.”
“keundae eomma...”
“Jinki hyung juga datang ke acara itu, benarkan hyung?”
Deg. Kenapa harus nama itu yang keluar dari bibir mungilmu Taeminnie, batinku.
“ne, ne, ne, Jinki hyung juga datang”, jawab Jjong hyung antusias, sayangnya aku tak seantusias itu.
“eomma.. kau tau kan? Mereka berdua memaksaku untuk kembali pulang ke korea. Banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan. Aku harus menyelesaikannya secepatnya dan mengirimkan e-mail ke bosku di sana. Jika tidak...”
“tak ada alasan Kim kibum, kita semua harus datang ke acara itu. Eomma dan appa sudah mengabarkan pada saudara-saudara di sana bahwa kau pulang dari Italy. Dan mereka sangat senang mendengarnya. Terutama kakekmu”.
“keundae eomma...”, rengekku agak memelas.
“kerjakan semua pekerjaanmu besok atau setelah acara selesai. Besok appa dan eomma akan berangkat ke Jeju. kalian bertiga bisa berangkat di hari H.”
“Ne, ne appanim”, saat appanim sudah mengeluarkan titah, tak ada lagi harapan untuk membantah. Aku menghembuskan nafas berat. Dadaku sesak. Membayangkan sebuah pertemuan yang tak kuharapkan. Bahkan Tuhan lagi-lagi tak mendengarkan permintaanku.
***
Pagi-pagi sekali Appanim dan Eommanim berangkat ke Jeju. Jonghyun hyung bertugas mengantarkan ke bandara. Aku dan Taemin mengantar kepergian mereka di depan gerbang. Eomma mengoceh tentang hadiah yang sudah ia siapkan, jas yang harus dipakai, jangan makan-makanan instan, jangan membuat kekacauan, datang tepat waktu di acara besok dan lain sebagainya sebelum memasuki mobil. Jonghyun hyung dengan sangat percaya diri mengatakan bahwa dia yang akan meng-handle semuanya. Cih, meng-handle semuanya? Baik, lihat saja nanti dino head.
Seharian aku berada di kamar mengerjakan urusan kantor, aku melepas kacamata yang sudah mengembun. Dan saat jam makan malam tiba kuputuskan untuk turun ke bawah menuju dapur. Pemandangan miris pun tersuguhkan di sana.
“Jonghyun hyung pabo. Apa ini yang kau sebut dengan makanan hyung?”, oceh Taemin dengan pandangan nanar menatap hidangan di meja. Ikan bakar yang menghitam seutuhnya, semua sayuran yang dimasak terlalu matang, dan saat Taemin mencoba kuah kacang rebus pasta, dahinya berkerut dan bibirnya melebar ke bawah, “yak hyung apa kau memasukkan sebotol garam ke dalam sini? Ini asin sekali kau tahu?”
“aigoo, dasar dino pabo”, ucapku mengejek Jjong hyung yang berdiri di dekat meja makan.
 Taemin yang sudah sangat lapar memutuskan untuk memanggil seseorang melalui ponselnya. “ne, ne, cepat datang kemari ne?” lalu dia menutup telephone-nya.
“siapa yang kau telephone? Eomma bilang kita tidak boleh makan ramyun atau makanan cepat saji dan sejenisnya”, ocehku pada Taemin.
“bukan ramyun, hyung. Yang jelas lebih baik dari makanan ternak ini”, jawabnya sambil menunjuk makanan buatan Jjong hyung.
Hampir 10 menit tidak ada yang terjadi. Pengantar ayam goreng atau sejenisnya juga tak kunjung datang. Dan, tiba-tiba..
“kenapa tidak pesan makanan saja, eoh?” kata seseorang yang mucul dari balik pintu.
“untuk apa jika aku bisa membawa ahlinya kemari? Hehe ”, Taemin sambil bergelayut di tangan namja bermata sipit itu. “Jinki hyung, buatkan aku makanan ne? Aku kelaparan hyuuung..” ucap Taemin manja.
“sebaiknya kau cepat memasak hyung, kami mulai kelaparan”, ucap Jjong hyung sambil  melepas celemeknya dan melemparnya sembarangan.
Dan saat itu juga mata kami bertemu. Namja dengan mata bulan sabit itu tertegun sejenak melihatku. “k..key? kau? Kapan kau datang?” tanyanya agak tergagap.
“belum lama”, jawabku singkat sambil memalingkan wajah. Aku berjalan mendekati meja makan dan duduk di samping Taemin. Aku tahu dia masih memandangku tapi aku tak berminat memandang ke arahnya. Dan detik berikutnya dia mulai berkutat dengan masakkannya.
Hanya butuh 30 menit dan makanan lezat sudah terhidang di meja. Jinki memotongkan melon dan strawberry lalu meletakkan di mangkukku, menuangkan susu ke dalamnya dan mengambilkan jus untukku. Tak kusangka ia masih mengingat semua itu. Oh benar. Bukankaah dia seorang dokter? Pasti dia memiliki otak yang sangat cerdas, hingga bisa mengingat segala sesuatunya.
Selama di meja makan kami saling diam.  Hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring. Aku benci dengan situasi ini. Lagipula aku bukan orang yang pura-pura tidak sadar dengan situasi yang sebenarnya terjadi. Alasan itulah yang membuatku enggan pulang ke rumah. Aku mencintainya, tapi rasa kecewa ini melebihi rasa cintaku padanya. Dan sekarang, aku sangat membenci orang yang ada di hadapanku ini.
“aku sudah selesai!” seru Taemin dan Jonghyun hyung bersamaan. Begitu selesai merapikan piring yang mereka gunakan dan meletakkannya di bak cuci piring mereka langsung meninggalkanku dan Jinki hyung di meja makan dengan penuh kecanggungan.
 “aku benci situasi macam ini”, keluhnya sambil menenggak air putih di hadapannya.
“aku juga”, jawabku tak kalah dingin, sambil mengemasi piring di meja dan membawanya ke dapur.
“bukankah ada yang perlu kita bicarakan?” serunya dari meja makan.
“tidak ada yang harus kita bicarakan lagi. Semua sudah jelas dan tak seharusnya kita membahasnya lagi”, kataku tanpa memandangnya melainkan sibuk dengan setumpuk cucian piring.
“ini tidak seperti...”
“seperti apa? Seperti pacarku mencium teman masa kecilnya? Atau seperti pacarku yang dengan sadar menamparku di depan umum hanya karena wanita murahan itu?” potongku sambil menahan sesak di dada.
“dia bukan wanita murahan Kim kibum..!” teriaknya.
“jika bukan, lalu kenapa kau lakukan itu? Jika bukan kenapa kau sakiti aku? Wanita macam apa yang mencium tunangan orang lain huh!!” teriakku tak kalah keras. Dadaku naik turun menahan amarah. Rasanya sesak. Jika diteruskan sebentar lagi pasti ada butiran air mata yang mengalir dari mataku. Dan aku benci itu.
“ini tidak akan berakhir sebelum kau mau mendengarkanku”, kata Jinki tegas.”jadi, dengarkan aku..!”
“tidak ada yang perlu aku dengar lagi dari mu Dr. Lee!” kataku ketus. Lalu meninggalkannya di ruang makan. Berlari menuju kamarku.
***
               Mataku terbelalak begitu melihat seseorang berdiri di depan ruang boarding. Lee Jinki, dengan eye smile-nya yang menarik perhatian para yeoja maupun namja di bandara ini. Ia  melambaikan tangan begitu melihat kami muncul dari pintu utama. Dan seperti biasa, Taemin langsung berlari  menghampirinya. Menggelayut di lengan kiri si namja kelinci itu.
Aku berhenti untuk menarik nafas sebentar.
               “kumohon jaga sikapmu Kim Kibum”, kata Jjong hyung sambil berlalu melewatiku. Mungkin dia mendengar pertengkaran kami semalam. Dan mungkin saja dia berharap agar aku tak berteriak pada Jinki di sini. Yang benar saja, ini kan tempat umum. Aku masih sadar dan waras untuk tidak berbuat hal yang memalukan di depan orang banyak.
               “hyung, palli... aku tidak mau dandananku berantakan hanya karena kau...”, teriak Taemin. Wah bahkan adikku itu sudah mengkhawatirkan tentang dandanannya.
Aku berjalan gontai menghampiri mereka. Jjong hyung dan Taemin langsung masuk ke ruang boarding. Begitu jarakku semakin dekat, Lee jinki mengulurkan tangannya padaku. Aku berjalan melewatinya. Dan tiba-tiba dia menarikku. Sedetik kemudian tangan kirinya sudah melingkar di pinggang rampingku.
“apa yang kau lakukan, pabo?” bisikku padanya sambil memandang tajam ke arah mata sipitnya.
               “sesuatu..” bisik Jinki tepat ditelingaku, “ada sesuatu yang masih menempel disana”. Dengan hati-hati dia menarik bandrol harga yang masih tertempel di pinggang kiriku. Setelah melihat harga yang tertera disana kelinci gila itu hanya menunjukan senyum tipisnya, lalu menyerahkan benda itu kepadaku. Ia berjalan memasuki ruang boarding. Sedangkan aku hanya bisa  berdiri mematung dengan wajah bersemu merah seperti buah apel di penghujung musim gugur.
               Detak jantungku mulai berdetak tak karuan. Wajahku terasa panas. Ah, ini memalukan. Bahkan tubuhku masih bereaksi terhadap sentuhan orang itu.
***
               Pernikahan Jaejoong hyung berlangsung sakral. Siang tadi mereka melakukan pemberkatan di gereja. Semua terlihat sakral dan mengharukan.
Aku melihat beberapa kali Jaejoong hyung menyusut butiran bening di sudut matanya. Apa begini rasanya saat berada di altar bersama orang yang akan bersumpah setia selamanya dengan kita? Dalam suka maupun duka? Dalam sakit maupun sehat? Semengharukan itukah?
Dalam hati aku pun berharap bisa merasakan hal yang sama. Dengan orang yang kucintai. Dan sebuah gambaran wajah seseorang muncul di benakku. Rasa sesak itupun muncul lagi. Tanpa sadar setetes air mata mengalir di pipi putihku.
               Malam harinya, pesta resepsi pernikahan Jaejoong hyung di gelar. Berhiaskan lampu-lampu krystal dan bernuansa putih. Pesta ini memakai tema putih. Aku tau Jaejoong hyung sangat menyukai warna ini. Jadi pantas saja dia memilih tema pestanya dengan nuansa demikian. Dan menurutku ini terlihat indah.
               Aku menghampiri Jaejoong hyung dan Yunho hyung yang berdiri berdampingan menebar senyum bahagia. “Jaejoong hyung.. chukae ne? Hyung neomu yeppeota~”, kataku saat sudah berada di depannya.
               “ah, kibummie. Kau datang? Gomawo ne?”, balas Jaejoong hyung seraya memelukku hangat. Aku membalas pelukan hangat darinya. “yak, kibummie setelah 3 tahun menghilang kau baru menampakkan wajahmu sekarang eoh? Jika kau tak muncul di pernikahanku mungkin saja aku akan menyewa agen FBI untuk membawamu ke hadapanku hahaha...”, tawa Jaejoong hyung sambil mencubit pipiku gemas.
               “ah, appo hyung. Yunho hyung, jagalah istrimu ini dan bimbinglah dia menjadi istri yang tidak cerewet dan segalak ini, ne? Aku mempercayakannya padamu hyung”, kataku sambil menepuk bahu Yunho hyung dan diiringi tawa kami bertiga.
               “ne, Kibum-shi. Aku akan menjaga hyungmu. Tenang saja percayalah padaku”, ucap Yunho hyung seraya merangkul bahu istrinya. Mereka berdua tersenyum malu-malu.
               “hah, Jaejoong hyung, aku sangat iri padamu. Bisa menikah dengan Yunho hyung yang sangat baik dan pengertian. Kau sangat beruntung hyung”, tersenyum manis di akhir kalimatku.
               “aku pun iri padamu. Kau memiliki namja yang matanya tak pernah lepas darimu dan selalu mengekorimu ke sana kemari, seperti anak anjing. Apa dia anak anjingmu kibummie?”, kata-kata Jaejoong hyung barusan membuatku heran. Siapa yang dimaksud olehnya? Aku mengikuti arah pandang dan senyuman kedua orang di depanku. Berbalik ke belakang dan melihatnya berdiri di sana.
               Namja berpipi chubby itu tersenyum sambil berjalan mendekat ke arah kami. Memandangku sekilas lalu menyalami Jaejoong hyung dan Yunho hyung. “hyung chukae ne? Semoga kalian selalu mendapat kebahagiaan.”
               “gomawo Jinki-ah...”, balas Jaejoong hyung dengan tersenyum manis. Jaejoong hyung dan Yunho hyung pun meninggalkan kami berdua saat ada relasi mereka yang memanggil. Ingin mengucapkan selamat mungkin.
               Saat aku akan pergi dari tempat itu, Jinki menahan lenganku. Menabrakkan tubuhku pada tubuhnya. Kedua lengannya tepat melingkar di pinggangku.
               “yak, paboya.. apa yang kau lakukan huh? Cepat lepaskan aku.. ”, aku meracau sambil kebingungan ingin melepaskan diriku dari pelukannya.
               “tapi aku tidak mau melakukannya Key”, jawabnya sambil tersenyum tipis. Aku masih berusaha melepaskan diriku dari pelukannya. Sayangnya tenaganya yang bak sapi jantan itu benar-benar kuat hingga aku bahkan tidak dapat bergerak satu sentipun, “kau tahu Key? Kau sangat cantik malam ini”
               Blush~ rasanya kedua pipiku panas. Berwarna merah mungkin. Ah, ini memalukan. Bukan hanya pelukan ini yang memalukan. Tetapi berekspresi seperti ini di depan Jinki. Aaahh, mau kuapakan mukaku ini...
               “lepaskan aku sekarang kelinci gila”, gumamku dengan nada mengancam.
               “mungkin aku akan melepasmu saat kita sudah selesai ‘melakukannya’ di atas ranjang”.
               “yak, Lee Jinki pabo...!!” teriakku sambil mendorongnya menjauh. Karna tadi dia melonggarkan pelukannya, sehingga aku bisa terlepas darinya. Tapi hasil dari teriakanku membuat semua mata tertuju pada kami berdua. Aahh, ini memalukan. Sedang Jinki tersenyum puas melihatku menahan malu. Jadi, dia memang ingin mengerjaiku huh? Dasar kelinci gila.
               Aku berbalik dan berjalan menjauh dari tempat Jinki berdiri. Menghindari tatapan para tamu yang tertuju padaku. Menghampiri Taemin yang berdiri di dekat meja persegi panjang yang berisi makanan.
               Taemin tersenyum geli melihatku yang mendekat padanya. “waahh, hyung. Kau mau mengumbar kemesraan di depan umum ya?” ledeknya disertai senyuman jahil.
               “mengumbar kemesraan apa? Dasar kelinci gila. Apa dia mau membuatku mati menahan malu di depan orang banyak?” ocehku.
               “tapi aku iri padamu hyung. Jinki hyung tidak malu bermesraan di depan umum seperti itu. Aahh, dia manis sekali”, ucapnya sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.
               “yak, Taemin. Kau masih kecil. Jangan berpikir yang macam-macam, eoh?”
               “aku sudah akan 18th hyung. Kenapa kau selalu menganggapku masih kecil huh?”
               Sebelum aku menjawab perkataan Taemin, sapaan seseorang yang tidak asing bagiku mengalihkan perhatianku. Pria tinggi dengan mata elang berjalan mendekat. Mengembangkan senyumnya yang berkharisma.
               “hei, Kim kibum. Setelah 3 tahun kau menghilang lalu muncul begitu saja tanpa memberitahuku eoh?” ucap namja itu. Saat namja itu berdiri di depanku Taemin bersembunyi di belakang bahuku, menundukkan kepalanya, pipinya memerah. Jangan-jangan..
               “apa urusanmu Choi Minho? Aku beritahupun kau tidak akan dengan sukarela datang ke bandara untuk menjemputku kan?”
               “eii, paling tidak kau harus memberitahuku. Bukankah kita bersahabat?” ucap namja yang bernama choi minho itu sambil diiringi tawa khasnya. “hei, bukankah kau Taemin? Wah, yeppo. Kau sangat cantik Taeminnie”. Taemin yang bersembunyi di belakangku semakin menunduk dalam. Dengan ujung mataku aku melihat pipinya yang makin kemerahan.
               “yak, choi minho jangan menggoda adikku. Atau akan aku patahkan kaki dan leganmu itu”, kataku yang membuat namja cantik di belakangku terlonjak kaget sambil mengucapkan kata ‘hyung’ dengan lirih.
               “aku tidak menggodanya Key. Aku hanya memujinya”, kata Minho sambil melemparkan senyum menggodanya pada Taemin.
               “aisshh, jangan coba-coba mendekati adikku. Aku memperingatkanmu. Arra? Kajja Taemin. Kita pergi dari sini”, menarik Taemin pergi meninggalkan Minho. Taemin mengangguk ke arah Minho sebelum kami semakin menjauh. Dan Minho membalasnya dengan senyuman tulus.
               Aku bukan membenci Minho. Bukan. Dia sahabatku. Sahabat terbaikku. Meski tadi sepertinya aku ketus padanya. Tapi, begitulah persahabatan kami. Dan bukannya aku tak menyutujui dia berhubungan dengan adikku. Apalagi melihat adikku yang sepertinya juga menyukai namja bermata belo itu. Aku hanya belum siap melepaskan adikku untuk seorang choi minho. Adikku masih kecil, dia masih polos. Mungkin suatu hari aku akan melepaskan adikku. Suatu hari. Saat dia mulai dewasa dan menerima bahwa dalam hubungan cinta bukan hanya ada rasa bahagia, tapi juga rasa sakit.
               Saat semakin larut, tamu-tamu sudah mulai berkurang. Kami, duduk di meja bundar di tengah ruangan. Bercengkrama dengan pengantin baru. Heechul hyung bersebelahan dengan kekasihnya, Enhyuk hyung. Minho duduk di sampingku mengobrol dengan Jonghyun hyung. Tiffany noona, Taeyeon noona, dan Seohyun juga bergabung bersama kami. Taemin sudah kembali ke hotel karena sudah sangat larut dan aku melarangnya ikut berkumpul bersama kami.
               Kebiasaan di keluarga besar kami. Saat ada pesta kami akan berkumpul di satu meja. Membicarakan hal ini dan itu. Dan karena ini pernikahan Jaejoong hyung, topik utamanya adalah bagaimana mereka bertemu, saling mencintai, dan memutuskan untuk menikah.
               “hey, kibummie. Karna ini pestaku, aku mau kau menuruti permintaanku”, ucap Jaejoong hyung tiba-tiba,  membuat perhatian semua yang ada di sekeliling meja tertuju padaku.
               “apa hyung?”, tanyaku polos. Jaejoong hyung menuang cairan dari sebuah botol ke dalam gelas bening. Yang mana dilihat dari jauh saja sudah bisa dipastikan itu alkohol. Apa Jaejoong hyung bermaksud menyuruhku meminum minuman keras? Hah, bahkan seumur hidup aku belum pernah menyentuh minuman itu dan benar-benar tidak mau mencobanya barang setetespun.
               “minum ini Kibummie...”, ucap Jaejoong hyung sambil menggeser gelas yang berisi alkohol itu ke depanku. Aku memandang gelas di depanku dengan kening berkerut. Ingin menolak, tapi itu tidak mungkin. Aku tidak mau dibilang tidak sopan. Tapi, jika meminumnya. Aaahhh....
               Aku meraih pegangan gelas bening itu. Mengangkatnya dan akan meminumnya. Tapi, sebelum bibir gelas itu menyentuh bibirku, seseorang merebutnya dari peganganku. Menempelkan pinggiran gelas itu pada bibir apel-nya dan menegaknya sekaligus. Ia tersenyum tipis. Memandang sekilas mataku dengan mata sabitnya. “aku adalah kestria hitamnya”, ucap Jinki ke arah Jaejoong hyung.
               “geureka? Kalau begitu kau harus meminum semua yang seharusnya diminum oleh bummie eoh, Jinki-yah?”, ucap Jaejoong hyung dan diikuti anggukan dari Jinki hyung. Minho menggeser duduknya dan mempersilahkan si namja kelinci itu duduk di sampingku.
               “kau tidak perlu melakukannya, aku bisa meminumnya sendiri”, ucapku lirih, tapi aku yakin dia dapat mendengarnya.
               “ tidak seharusnya kau menyentuh benda semacam ini, jadi diam dan biarkan aku yang meminumnya”, jawabnya tegas. Meraih gelas bening yang sudah terisi kembali dengan alkohol hasil tuangan Jaejoong hyung.
               Dan begitulah sepanjang malam. Michintokki ini menegak semua alkohol yang disodorkan Jaejoong hyung ke arahku. Setiap aku akan meraihnya, dia akan meraihnya lebih dulu. Menegaknya hingga habis. Semua yang duduk di sekitar kami berceloteh betapa besar pengorbanan Lee Jinki untukku. Dan aku tanggapi dengan senyuman dingin.
***
               Sudah hampir dini hari saat aku memapah namja berpipi chubby ini di sepanjang koridor hotel. Dia mabuk. Tentu saja, dia sudah menghabiskan bergelas-gelas alkohol. Aku mengoceh tentang betapa beratnya dia sepanjang jalan. Dia sangat berat. “yak, michintokki kau harus menurunkan berat badanmu eoh? Kau... sangat.. beraattt... ahhh”, ocehku ngos-ngosan sambil melemparnya ke tempat tidur saat sudah sampai di kamar hotelnya.
               Aku melepaskan sepatu dan jasnya. Aku yakin sebentar lagi dia pasti akan mengeluarkan magma dari dalam mulutnya. Dia meracau tidak jelas, khas orang yang sedang mabuk berat.
“heol, dasar ahjussi pemabuk”.
Aku beranjak pergi, tapi lenganku ditahan olehnya. Aku merasakan genggamannya semakin erat seakan dia tak ingin aku pergi.
“jangan pergi key... aku mohon dengarkan aku...”, ucapnya dengan mata terpejam. Aku melihat aliran bening berasal dari sudut matanya.
Sudut hatiku mulai tergerak untuk sedikit melunak. Tapi, lagi-lagi ego mengalahkan suara hatiku. Aku melepaskan tangan Jinki hyung yang menggenggam lenganku erat dengan susah payah. Meninggalkan namja tampan itu sendiri di kamarnya.
***
TBC...
Gimana? Kecepetan yah? Maklum masih newbie di dunia per BL-an... kritik, saran komen dibutuhkan loohh... inget no bash no flame... ^~^

               

Jumat, 21 Februari 2014

WHEN I BECOME A FANGIRL

setelah terombang-ambing lamanya. mencampakkan blog yang capek-capek dibuat sampai menghabiskan kuota. 2 bulan kemudian baru gue sadar. sudah seharusnya gue nengokin blog gue. berasa udah berapa taon gitu terbengkalai gak ada yang ngerawat *puk puk blog*.

lagian bingung mameen mau ngisi apa di blog guwe. gue kan orangnya gk asyik bok. mau cuap-cuap ini itu takut garing. tapi kalau nggak diisi merasa berdosa terhadap pemilik blogger *emang peduli gitu yang punya situs blogger?

anyway, semenjak terakhir gue nulis di blog. udah banyak perubahan yang terjadi dalam hidup gue. bukan perubahan yang gue tiba-tiba mendadak kaya atau berubah waras. bukan.. bukan ituuu.karna itu hanyalah bayang-bayang semata *hemeh

Jadi, itu.. gini... anuu... saya sekarang meresmikan diri saya sebagai seorang kepopers... tepuk tangan tepuk tangan.... prokk prook prokk...
kog bisa? yaaa bisa laahh... karna Kpop yang memilih saya bukan saya yang memilih Kpop hehehehe....
bukan Kpopers sejati juga sih, secara ane cuma tau segelintir BB dan GB korea. Itupun cuma dikit doang, terutama dari SM yang empunya namanya eyang Sooman, mbah Sooman, engkong Sooman, dan banyak skalee sebutan saya untuk orang itu yang sudah sangat baik hati melahirkan sebuah BB yang sangat saya cintai sekarang ini.
SHINee iya SHINee. SHINee yang BERSINAR menyinari SHINee World (shawol)  dan saya sangat mencintai kelima manusia yang terkeren, terhebat, terunik, tergahol, teralay sepanjang masa macam SHINee.

kronologinya:
Ini terjadi pertengahan tahun 2013, di mana saat itu saya dan teman-teman saya menggandrungi drama korea. yups, guwe itu addict banget sama drama korea. Tiap temen ngaku punya drakor baru pasti bawaannya langsung pengen malakin aje. Dan guwe saat itu bilang kalo just suka sama Kmovie and Kdrama doang, nggak sampai Kpop-nya.
Dan pada suatu hari, saya diajakin maen ke rumah seorang teman bernama Faresia Milda Kumara. niatnya mau minta drakor yang belum ane punya. Dan guwe tau banget si Sarah ini (mangilnya sarah bok, jauh ye dari nama panjangnye?), nggak cuma suka sama drakor. tapi juga Kpop.

Dulu sih pas jamannya gandrung banget sama drakor heartstring guwe jatuh cinta gitu sama yonghwa (dlm jangka wkt yang sebentar) dan dikasih MV-nya CNBLUE sama Sarah. Just like that, suka sama CNBLUE sih semacam suka aja, nggak suka sampai banget banget banget nget nget....

Kembali pas ane maen ke rumahnya Sara buat minta pilm 'n drama. Ternyata semua pilm dan drama-nya hampir udah ane punya semua. Terus kemudian dia nawarin. "kamu suka veriety show gk?" gw cuma geleng-geleng. Kala itu gue gak tau sama sekali tentang acara-acara apapun tentang korea selain drama, termasuk Running Man yang suangat fenomenal.
"kalau ane kasih SHINee hello baby mau nggak? ini itu ceritanya SHINee ngasuh anak kecil mereka jadi bapaknya anak itu. Yang jadi anaknya lucu banget deh , imut gitu", tawarnya.
Guwe cuma diem, mikir. SHINee? seinget guwe SHINee itu yang ngisi soundtrack BBF kan? yang nyanyi stand by me?
Dan guwe mengambil sebuah keputusan yang mengubah segala-galanya. Gue setuju-setuju aja pas dicopyin itu VS. Malemnya, gue langsung nonton dan ngakak ampe jungkir balik. sumpah mereka konyol banget. lucu. gaje. dan bla bla bla....
apalagi pas adegan Key ngelempar death glare ke jonghyun sama taemin. ampe gue reply mele tu adegan.
Gue pu meyadari sesuatu, kalo Minho yang maen di to the bautiful you, yang jadi kang taejoon yang super cool itu adalah member SHINee... *oh shawol senior ampunilah juniormu ini
terus tiba-tiba ada satu manusia yang menarik perhatian. namanya Onew. katanya leader, tapi kog sering dibully ya sama anggotanya? trus, dia satu-satunya manusia yang nggak bisa deket sama Yoogeun(nama anak yg diasuh). gue penasaran banget, ini orang kenapa gk bis deket sih sama anaknya? pas yag laen pada maen sama anaknya, itu orang cuma ngelihatin doang.  Gue penasaran banget sama itu orang dan lanjut jadi suka sama tingkah konyolnya. mungkin inilah yang dinamakan love at first sigh *tssaahhh

lalu, selesei begitu saja. setelah beberapa bulan berikutnya. Oktober kalo nda salah. Dimana sara pulang ke rumah dan ngajakin gue nengokin temen yang kecelakaan. Kita janjian buat berbagi film(lagi).
tadinya cuma mau berbagi film gitu cuman dia sambil promosiin Exo ke guwe, sayangnya gue nggak tertarik bok. membernya kebanyakan. nonton mv-ya aja berasa rusuh *ups
guwe lebih milih buat nonton mv-nya SHINee yang ada di lepy-nya.
hari berikutnyaaaa saat guwe lg boring. guwe iseng nyari-nyari tentang Onew. waktu itu, guwe nemu blog yang nulis tentang SHINee UFO reply. ngakak gila guwe baca jawaban-jawaban mereka. Konyol, gila, absurd, bercampur menjadi 1. pokoknya ngakak gila deh. apalagi Onew yang tiap jawab question pasti nggak ketinggalan ayamnya. Chicken lovers banget deeehhh... trus guwe cari fakta2 tentang mereka. all about SHINee deh....
karna waktu itu di google ada notif tentang SHINee comeback stage, (gw kan udah folloow g+nya SHINee waktu ituh), gue pun coba download MV mereka yang everybody. dan sumpah demi apa itu kereeennn banget. apalagi pas video dance practice everybody keluar, gue langsung donlot dan memuja-muja kehebatan mereka dalam perform lagu yang dance-nya seribet itu (taemin pan pake dilempar2 gitu coy)

Dan saat penghargaan Melon Music Awards, dimana mereka menang jadi artist of the year(daesang) guwe ikut sueneng banget. bahkan pas guwe download video mereka dapet daesang itu guwe jg ikut nangis bok (sampai skrg klo nonton videony gw masih mewek)
guepun cari daftar pemenangnya MMA. trus ketemulah di sebuah website yg ada daptar pemenang MMA yang lengkap.yang miris itu komen2nannya. ada yang ngebash SHINee dan gk trima kalo SHINee menang. jleb gue berasa ketusuk. kog bisa sih ada orang kayak gitu. dan ternyata terjadi Fanwar di sana. dan guwe takjub bnget sama shawol yang ngebelain SHINee mati-matian. hingga gue pun jatuh cinta pada fandom ini.

SHINee World disingkat shawol. the most polite fandom. nggak suka fanwar akur, kompak gokil, kuat banget. saat SHINee dibash SHINee digimana2in juga mereka tetap cinta sama SHINee. dan semua hal lain yang bikin guwe cinta sama fandom ini.

I LOVE SHINee AND I'M PROUD TO BE SHAWOL....!!!
SHINee SARANGHANDA~
SHAWOLDEUL SRANGHANDA~

saya akan selalu mendukung SHINee, mencintai SHINee, dan menjadi seorang SHAWOL hari ini. esok, dan seterusnya. Meskipun saya baru junior. Tapi umur saya yang segini sudah tidak mengijinkan saya untuk menjadi labil. jadi multifandom ataupun pindah fandom... no no no... sekali SHINee tetap SHINee...
forever SHINee...

sekian cuap-cuap dari saya. maap kepanjangan. lagi semangat skalee buat nulis... hehehe...
and remember... I'm SHAWOL... arachi..?? ~_*